Tentu saja momen Idul Adha 1432 kemarin bisa dikatakan sama dengan momen lebaran haji sebelum-sebelumnya. Cuma yang berbeda adalah aku sedang dalam masa Ujian Tengah Semester (UTS), jadi aku tidak keliling kampung untuk melihat euforia Idul Qurban. Aku cukup berteduh di bawah atap rumah, sesekali membaca buku buat belajar, dan juga sedikit lebih banyak menonton televisi. Selain itu memang sudah memasuki musim hujan, bung. Gerimis sepoi-sepoi, angin rintik-rintik, loh?
Sebelumnya, aku mau kasih tahu bahwa tempat tinggalku adalah di suatu perumahan kelas menengah, perumahan terbesar di kotaku dengan fasilitas dan lingkungan yang cukup baik dan mendukung. Maklum, perumahanku saja dibagi jadi 3 bagian: Griya Prima Timur (GPT), Griya Prima Barat (GPB), dan Griya Prima Utara (GPU), yang masing-masing punya RW sendiri-sendiri, dan masih ada “perumahan satelit” yakni Griya Prima Selatan. Di situ terdapat beberapa lapangan olah raga yang cukup luas. Nah, sebab itulah aku melaksanakan salat Id di salah satu lapangan yang cukup luas, letaknya di tengah-tengah perumahan, yakni di Lapangan Tenis Griya Prima Timur, Jl. Raya Griya Prima, Klaten Utara. Sedangkan rumahku sendiri di Griya Prima Barat, siapa yang tanya?
Salat Idul Adha dimulai sekitar pukul 06.15 WIB dengan imam Pak Muslim dari Griya Prima Timur. Setelah salat Id selesai, diteruskan dengan khotbah. Dalam khotbah itu aku tumben mendengarkan dengan seksama. Apa yang disabdakan khotib tersebut aku telan matang-matang, karena bagiku khotbah yang satu ini cukup berkesan dan membakar gelora kenasionalan.
Islam kita majoritas jumlahnya banyak, tapi kenapa keberadaannya itu tidak tampak di masyarakat?
Nah, itulah yang bikin bulu-bulu tangan dan kaki bergetar, merinding, lebay. Memang benar, muslim dan muslimat di Indonesia merupakan majoritas, mungkin 90 persennya penduduk Nusantara adalam kaum Islam. Tetapi masih saja Indonesia tercinta ini kalah dengan negara barat. Padahal nilai-nilai syariah Islam sebenarnya sangat baik untuk diterapkan baik dalam kehidupan sosial maupun kenegaraan. Banyak pejabat yang sudah bergelar haji dan hajah, tapi masih ada di antara mereka yang juga melakukan korupsi atas kesadaran penuh, melepas tanggung jawabnya sebagai seorang Islam dan bergelar haji/hajah. Sungguh ironis memang, ketika peribadatan seorang insan mulus layaknya alim ulama, namun kemunkaran juga tetap jalan. Huh!
Saat-saat untuk beristirahat.
Sapi yang malu-malu kucing. Sapi kok malunya kucing?
Ini yang namanya pendekatan. Yang didekati tampangnya seram.
Akhirnya disembelih juga.
Aduh, porno. Foto telanjang.
Selepas salat Id, aku bersalam-salaman dengan warga sekitar. Lalu ada jadwal penyembelihan hewan korban di masing-masing masjid GPT, GPB, dan GPU, karena masing-masing memiliki jamaah yang banyak. Dalam satu kompleks Perumahan Griya Prima, totalnya adalah 18 sapi dan 3 kambing, dengan persebaran 8 sapi 2 kambing di GPT, 7 sapi 1 kambing di GPB, dan 3 sapi di GPU. Penyembelihan dilakukan mulai pukul 09.00 WIB hingga sekitar bakda zuhur. Kelihatan bapak-bapak dan para remaja yang membantu proses penyembelihan, ibu-ibu yang memotong-motong daging dan mempersiapkan untuk pesta korban, dan anak-anak juga memeriahkan acara penyembelihan yang sedikit-banyak membantu pula. Kesadaran terhadap sosial di perumahan ini memang cukup baik, berbeda dengan perumahan-perumahan pada umumnya yang mengutamakan individualitas. Terbukti dengan kesadaran menyisihkan sebagian harta untuk berkorban.
Dalam momen itu, aku teringat pesan poin ke-2 yang disampaikan khotib saat sehabis salat Id.
Marilah kita luruskan niat kita, apakah korban itu dipersembahkan hanya untuk manusia, ataukah semata-mata karena Allah swt.?
Tidak dapat dipungkiri, beberapa yang berkorban pasti pernah terbesit pikiran: berkorban untuk menampakkan bahwa si pengorban itu dipandang sebagai orang yang mampu. Pun juga kadang dijadikan ajang untuk bersaing dalam hal kekayaan. Tapi masih ada juga yang memang benar-benar tulus berderma demi kekenyangan perut bersama, hehehe. Coba kita introspeksi diri kita masing-masing, bukan dalam hal berkorban saja, tapi secara umum. Lagi-lagi setan laknat yang dikambinghitamkan, padahal bisa saja rasa ingin dipandang itu muncul dari nafsu masing-masing insan.
Satu lagi pesan khotib yang terakhir, poin ketiga yang baru saja aku ingat waktu menulis pos ini.
Orang yang perlu dikasihani itu ada 3.
1. Orang mulia yang teraniaya.
2. Orang kaya yang jatuh bangkrut.
3. Orang pintar di tengah-tengah orang bodoh karena apatis.
Ingat, masak dulu ketiga-tiga poin itu, bukan cuma 3 poin dalam pesan ketiga, lho. Telan matang-matang, lalu perhatikan apa yang terjadi. Super!




