<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Omriz Blog</title>
	<atom:link href="http://www.omriz.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.omriz.com</link>
	<description>Situs web Rizky Kharisma</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Apr 2012 09:52:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2</generator>
		<item>
		<title>Kakek Penjual Bunga Romantis: Seribu Dapat Tiga</title>
		<link>http://www.omriz.com/kakek-penjual-bunga-romantis-seribu-dapat-tiga/</link>
		<comments>http://www.omriz.com/kakek-penjual-bunga-romantis-seribu-dapat-tiga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 09:42:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.omriz.com/?p=828</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu cukup cerah, hari Minggu, 22 April 2012, sekira pukul 13.00. Aku bersama keluargaku, bersama tiga keponakan, dan dua omku berjalan-jalan di seputaran Alun-alun Pancasila Kota Salatiga. Kami berhenti sejenak di salah satu kedai yang menjajakan berbagai pangan di sana. Kami duduk lesehan di bawah pohong rindang dan memesan beberapa makanan ringan. Empat batagor, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Siang itu cukup cerah, hari Minggu, 22 April 2012, sekira pukul 13.00. Aku bersama keluargaku, bersama tiga keponakan, dan dua omku berjalan-jalan di seputaran Alun-alun Pancasila Kota Salatiga. Kami berhenti sejenak di salah satu kedai yang menjajakan berbagai pangan di sana. Kami duduk <em>lesehan</em> di bawah pohong rindang dan memesan beberapa makanan ringan. Empat batagor, dua siomay, dan empates buah campur. Walaupun siang hari, udara di Salatiga lebih sejuk dibanding Kota Klaten.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menikmati hidangan dan pemandangan kota, adikku dan keponakanku menjajal mainan mobil listrik. Mereka berputar mengelilingi alun-alun sebanyak dua kali, dengan merogoh kocek Rp10.000,00. Lumayan buat menyenangkan hati mereka. Canda tawa mereka lepas begitu saja. Setelah selesai, mereka pun menyantap makanan yang telah dihidangkan, kami bersama-sama. Beberapa pengamen anak-anak menengadah di depan kami. Kasihan mereka, di saat hari libur yang harusnya adalah saat di mana anak-anak bersenang-senang, mereka justru di bawah panasnya matahari meminta-minta belas kasihan orang-orang. Terbesit pikiran, di mana orang tua mereka hingga tega &#8220;mempekerjakan&#8221; mereka sampai hari libur. Di sisi lain, saat menikmati santapan itu, ada satu hal yang sangat menarik perhatian kami.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-828"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-align: justify;">Ada seorang kakek yang</span><span style="text-align: justify;"> </span><span style="text-align: justify;">berjualan dengan menggunakan gerobak dorong. Umurnya boleh dibilang sudah uzur, lansia, namun semangatnya untuk bekerja masih tinggi. Apa yang membuat aku iba dan menjadi sebab aku menulis ini, adalah dagangannya yang boleh dibilang tidak umumnya dijajakan pedagang di sana, dan bahwa beliau sepertinya mengidap sindrom Parkinson. Ketika aku melihat dia, aku langsung merasa kasihan dan berusaha menahan air mata yang mulai membasahi mata. Aku melihat gerobaknya, terdapat suatu tulisan. Dia menjajakan bunga hias yang ia beri nama &#8220;Bunga Romantis&#8221;, dijual seharga Rp1.000,00 dapat 3 bunga. Sungguh bagiku itu harga yang tidak sesuai dengan hasil karyanya. Lagipula, uang seribu rupiah kini hanya cukup untuk membeli dua gorengan kecil. Kalau pun aku membuat bunga itu, pasti tak akan aku jual dengan harga semurah itu. Dia juga sangat kesusahan mendorong gerobaknya, karena sindrom Parkinson-nya membuat seluruh tubuhnya bergetar, tidak cuma sebatas bagian tubuh tertentu, membuat </span><em style="text-align: justify;">trenyuh</em><span style="text-align: justify;"> jiwa ini, kasihan. Dia coba mendorong gerobaknya dari ujung ke ujung, namun tak ada yang membelinya. Entah mengapa orang-orang tidak mau membeli apa yang kakek jual itu. Apakah mereka tidak punya rasa iba, atau justru mereka takut atau malah dalam hati menertawakan gerak-gerik kakek itu yang terus saja bergetar. Bahkan untuk memberhentikan gerobaknya saja, ia harus berusaha untuk duduk dahulu agar gerobaknya tidak terjungkal ke depan.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Kakek itu lewat di depan kami, dia sepertinya ingin berhenti di depan kami untuk mempromosikan dagangannya. Namun, dia kesulitan untuk mengendalikan gerobaknya agar berhenti, dan dia pun akhirnya jalan mendorong gerobaknya lagi. Sungguh membuat mata ini hampir berkaca-kaca.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bilang pada adikku dan keponakanku, “Dik, <em>mbok</em> kamu beli bunga <em>simbah</em>nya itu, kasihan <em>simbah</em>nya. Lihat itu. Bunganya juga bagus-bagus <em>kok</em>, cantik-cantik. Buat mainan juga bisa.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ibuku juga menambahi, “Iya, Dik. Kamu beli sana, <em>simbah</em>nya dipanggil itu.”</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Mbah</em>, <em>mbah</em>. Oh, <em>simbah</em>nya tidak dengar,” ibuku seraya memanggil dan akhirnya mendekati kakek itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya orang-orang di sekitar kami yang melihat pastinya juga iba, namun ibuku yang akhirnya mencoba untuk memanggil kakek itu agar berhenti. Ibuku menyuruh adik serta keponakanku memilih-milih bunga yang cocok dengan kesukaan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama berselang, langsung berbondong-bondong orang meramaikan dagangan kakek itu dan membelinya. Sebelah kami yang tadinya duduk-duduk dan melihat saja, akhirnya juga terketuk hatinya untuk membeli. Pengunjung yang sedang menikmati jajanan di tenda yang agak jauh pun juga bergegas menghampiri kakek itu. Ada pula seorang bapak yang turun dari motor untuk membeli “Bunga Romantis” milik kakek tersebut. Bahkan penjual lain yang ada di sana pun turut meramaikan gerobak kakek itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami sangat senang melihat apa yang dijajakan kakek itu jadi laris setelah ibuku “memelopori” membelinya. Aku lihat dari kejauhan, di tangan kiri kakek itu membawa banyak uang yang ia genggam, hasil dari borongan orang-orang yang mengerumuninya. Rona wajah kakek itu ceria. Sungguh apa yang aku dan keluargaku lihat saat itu adalah anugerah Yang Maha Pengasih. Kami merasa bahagia melihat dagangan kakek itu laris. Mungkin kakek itu juga merasa demikian, bahkan lebih.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah orang-orang sekitar kami sudah membeli, lapak gerobak kakek sepi kembali. Namun tampaknya dia sudah sangat senang dengan uang yang ia genggam. Beberapa kali dia menoleh ke arah kami dan tersenyum. Kakek tersebut agak kesusahan saat akan memasukkan uang ke sakunya, karena tubuhnya yang terus bergetar. Dia pun mulai mendorong gerobaknya lagi, dengan susah ia tetap berusaha berdiri seraya tubuh bergetarnya. Sekali lagi, dia menoleh ke arah kami dan kembali tersenyum. Senyum bahagia.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sedikit <em>nyeletuk</em> pada keluargaku, “Jangan-jangan yang tadi itu acara Tim Tolong ya?” Ternyata bukan, dan itu memang benar-benar asli, benar-benar ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai makan, kami menuju tempat parkir untuk pulang. Aku lihat kakek itu berhenti di salah satu sudut alun-alun, duduk sambil menghitung uang yang baru saja ia peroleh. Subhanallah.</p>
<blockquote><p>Banyak orang-orang yang mengemis demi selahap nasi, namun masih ada orang-orang yang lebih bersahaja tetap berjuang berjualan kecil-kecilan walaupun tidak laku-laku. Mengemis itu tidak berusaha dan hanya meminta-minta, yang berjuang itulah yang lebih terhormat dan hasilnya akan memberikan kepuasan walaupun tak sebanyak yang pengemis peroleh.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ada salah satu kutipan dari rekan dosen ITB yang aku baca dari tulisan Rinaldi Munir, dosen ITB, “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya, aku saat itu tidak sampai hati untuk mengambil foto kakek itu. Mungkin Mei mendatang saat aku ke sana lagi, aku bisa bertemu dan mencoba membuka percakapan dengan kakek itu. Berikut adalah foto “Bunga Romantis” yang adikku beli, hasil karya kakek dan yang ia jajakan itu &#8211; yang akan diunggah akhir bulan ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.omriz.com/kakek-penjual-bunga-romantis-seribu-dapat-tiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Apa dengan Terminal Jonggrangan?</title>
		<link>http://www.omriz.com/ada-apa-dengan-terminal-jonggrangan/</link>
		<comments>http://www.omriz.com/ada-apa-dengan-terminal-jonggrangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Mar 2012 15:18:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.omriz.com/?p=814</guid>
		<description><![CDATA[Terminal Jonggrangan yang merupakan terminal induk Kota Klaten bakal dipindah ke Terminal Buntalan, terminal baru bertipe A yang akan dibangun sekitar tahun 2013 &#8211; 2014 mendatang. Ini merupakan salah satu langkah pemerintah untuk meningkatkan daya guna terminal di Kota Klaten mengingat kapasitas terminal lama, Terminal Jonggrangan, dirasa kurang memadai untuk perkembangan zaman. Setelah membaca berita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Terminal Jonggrangan yang merupakan terminal induk Kota Klaten bakal dipindah ke Terminal Buntalan, terminal baru bertipe A yang akan dibangun sekitar tahun 2013 &#8211; 2014 mendatang. Ini merupakan salah satu langkah pemerintah untuk meningkatkan daya guna terminal di Kota Klaten mengingat kapasitas terminal lama, Terminal Jonggrangan, dirasa kurang memadai untuk perkembangan zaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah membaca berita di Media Indonesia, aku cukup kecewa. Maklum, aku juga mempelajari tata ruang di Kota Klaten. Yang bikin kecewa adalah diberitakan bahwa DPRD Klaten telah sepakat untuk membangun masjid agung baru, menggantikan masjid agung lama, di area (bekas) Terminal Jonggrangan tersebut. Padahal terminal yang baru belum dibangun sama sekali. Mau dibawa ke mana para penumpang bus di Klaten? Ke Terminal Bendogantungan? Di sana kurang memadai, mengingat Terminal Bendogantungan hanyalah subterminal satu-satunya di Kota Klaten dan kurang terawat keberadaannya. Selain para penumpang, kasihan juga para agen bus dan travel karena tak tahu harus pindah ke mana bandar mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal lain yang bikin aku kecewa adalah <span id="more-814"></span>masalah letak. Kita lihat saja Kota Magelang. Di sana dibangun sebuah mal baru, <em>Armada Town Square</em>, akhir tahun 2011 lalu. Letaknya di persimpangan antara jalan masuk kota dengan jalan lingkar. Otomatis, masyarakat baik dari dalam maupun luar Kota Magelang berbondong-bondong meramaikan mal baru tersebut yang juga terdapat hotel berbintang di lantai atasnya. Mal yang konon katanya sekelas melebihi Plaza Ambarukmo di Yogyakarta itu mampu mengubah ikon Kota Magelang yang tadinya hanya berpusat di sekitar alun-alun (seperti kota-kota biasa yang lain) terpecah ke area batas kota. Itu dapat diartikan bahwa suasana kota akan makin ramai, makin banyak pengunjung, makin bergairah, banyak yang transit, yang secara langsung dapat menumbuhkan perekonomian kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang, kita lihat posisi (bekas) Terminal Jonggrangan. Letaknya persis dengan <em>Armada Town Square</em> di Magelang, yakni sama-sama terletak di persimpangan jalan masuk kota dan jalan lingkar. Yang bikin heran, mengapa di tempat itu justru akan didirikan sebuah masjid agung baru? Bukankah masjid agung yang masih eksis sekarang ini kapasitasnya juga masih mencukupi? Selain itu, tidak etis apabila suatu masjid agung kota diletakkan di pinggiran kota, di dekat jalan lingkar. Sudah barang pantas, alias selayaknya, bahwa suatu masjid agung hendaklah ditempatkan di seputaran pusat kota. Masalah lahan bukan jadi persoalan, karena Kota Klaten masih memiliki lahan kosong di pusat kota. Atau jika keberatan membeli lahan di pusat kota, lebih baik masjid agung yang ada direnovasi saja, mengingat letaknya yang sudah berada di tepat pusat kota, dekat titik nol kilometer.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun Kota Klaten sudah punya sebuah mal yang dapat dikatakan kuno (baca= <em>jadul</em>), yakni Plasa Klaten, masyarakat kurang tertarik untuk berkunjung ke sana karena wajah mal tersebut masih asli sejak pertama kali berdiri tahun 1990-an. Kita (warga dan pemerintah) bisa menengok Magelang, belajar darinya, mereka. Dengan membangun mal di persimpangan jalan protokol itu tadi, dapat menarik pelancong-pelancong yang biasanya hanya lewat, kini mau mampir ke Kota Klaten. Rugi bila pemerintah tidak menengok dan mempertimbangkan apa yang telah dilakukan oleh Kota Magelang. Dengan adanya pusat perbelanjaan baru, yang sebaiknya dirancang minimal sekelas baiknya dengan Plaza Ambarukmo, akan membuat masyarakat yang berlalu lalang dari Yogyakarta maupun Solo akan mampir sejenak di Klaten. Banyak yang berlalu lalang melalui Klaten, banyak jalanan yang kadang macet. Tapi jarang yang menghentikan perjalanannya sejenak di Klaten karena tidak adanya sesuatu yang memikat untuk mampir.</p>
<p style="text-align: justify;">Masalah keuntungan? Jelas untung. Secara sadar, adanya suatu pusat perbelanjaan akan membutuhkan banyak tenaga kerja, sehingga dapat menyerap ratusan tenaga kerja dari daerah setempat. Di Magelang pun juga begitu, masyarakat sekitar mal Artos banyak yang terserap bekerja di sana, yang berarti dapat mengurangi tingkat pengangguran. Bukan hanya <em>tenant</em>-<em>tenant</em> saja yang pasti bakal untung, warga sekitar pun juga bisa. Masyarakat dapat membuka lahan parkir di sekitaran, warung makan, toko pakaian, seperti di sekitaran Amplaz, Artos, SGM, dan lain sebagainya. Itu berarti dapat meningkatkan kesejahteraan warga di Jonggrangan. Bagi warga Kota Klaten pada umumnya, pelancong akan bertambah yang berkunjung ke Klaten, otomatis akan membuat Klaten makin ramai, bergairah pada perekonomian sehingga akan diuntungkan. Di sisi pemerintah juga dapat menarik pajak dari <em>tenant</em>-<em>tenant</em> yang menyewa mal baru itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau pun pemerintah tidak menyetujui pendirian pusat perbelanjaan baru, boleh jadi kita tengok Purwokerto, ibukota Kabupaten Banyumas. Di sana dibangun sebuah taman, ruang terbuka hijau, bernama Andang Pangrenan yang letaknya di bekas terminal lama. Ini bisa jadi alternatif manakala Kota Klaten dirasa kurang memiliki ruang terbuka hijau atau taman kota. Di Kota Klaten, hanya terdapat taman Tugu Perwari di simpang empat Tegalyoso, Alun-alun Kota Klaten, taman Monumen Juang &#8217;45, dan hutan kota di simpang tiga SMPN 1. Selain itu, belum ada suatu taman yang dapat menampung cukup banyak orang, nyaman, asri, dan dilengkapi dengan fasilitas modern seperti koneksi nirkabel internet. Aku rasa sudah saatnya Klaten juga memiliki taman atau ruang terbuka hijau yang bisa jadi tempat rekreasi warganya ketika akhir pekan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, pada dasarnya pemerintah sebaiknya bangunlah dulu Terminal Buntalan, baru memikirkan apa yang akan dilakukan di (bekas) Terminal Jonggrangan, bukan sebaliknya. Jangan tergesa-gesa dan terkesan hanya opini pejabat, bukan opini publik. Pembangunan itu butuh biaya yang besar dan membutuhkan tata ruang yang bagus demi perwajahan kota dan kesejahteraan rakyat bersama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.omriz.com/ada-apa-dengan-terminal-jonggrangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyetir?</title>
		<link>http://www.omriz.com/nyetir/</link>
		<comments>http://www.omriz.com/nyetir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2012 16:17:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.omriz.com/?p=803</guid>
		<description><![CDATA[Sesuai judulnya: Nyetir? Barangkali adalah hal yang awam bagiku, karena aku sama sekali sebelumnya belum pernah mengemudikan mobil, walaupun sesekali pernah menginjak gas-rem-kopling dan memindah gigi persneling sebatas ingin tahu saja. Untuk ketiga kalinya, keluargaku memiliki sebuah mobil. Kali ini lumayan buat jalan-jalan, tak seperti mobil-mobil sebelumnya yang sering rewel. Dibantu oleh teman sejawatku bernama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sesuai judulnya: Nyetir?</p>
<p style="text-align: justify;">Barangkali adalah hal yang awam bagiku, karena aku sama sekali sebelumnya belum pernah mengemudikan mobil, walaupun sesekali pernah menginjak gas-rem-kopling dan memindah gigi persneling sebatas ingin tahu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk ketiga kalinya, keluargaku memiliki sebuah mobil. Kali ini lumayan buat jalan-jalan, tak seperti mobil-mobil sebelumnya yang sering rewel. Dibantu oleh teman sejawatku bernama Arie Wibowo (baca: Simbik) memilih-milih mobil yang cocok. Sebelumnya, kami sempat melihat Daihatsu Xenia Li Deluxe tahun 2005, namun ternyata kondisinya kurang memuaskan. Lakernya kena, rem tangan (hands rem)-nya blong! Akhirnya kami mengurungkan niat untuk memilikinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari berikutnya,<span id="more-803"></span> aku dan keluargaku melihat Daihatsu Taruna CX tahun 1999. Sekilas dari luar, catnya masih rapi, terlihat seperti tahun 2000-an. Setelah dijajal, mesinnya juga lebih bagus daripada Xenia yanghari sebelumnya dilihat. Tanpa menunggu Arie yang kebetulan sedang ada urusan dengan kakaknya, kami pun sepakat untuk <em>deal</em> membelinya. Keesokan harinya, aku meminta Arie untuk membawa mobil itu ke rumah. Maklum, bapakku sudah lama tidak menyetir, sedangkan aku sama sekali belum pernah menyetir.</p>
<p style="text-align: justify;">Malamnya, aku langsung menjajal.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Coba maju-mundur dulu saja sampai pertigaan jalan itu,&#8221; kata bapakku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata, alhamdulillah, lancar tanpa ada sendatan dalam menginjak gas-rem-kopling, alias mulus.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, aku coba memberanikan diri untuk berjalan lebih jauh: berkeliling perumahan dengan jalan yang relatif sempit untuk ukuran simpangan mobil. Hasilnya: mulus. Alhamdulillah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan untuk terakhir kalinya, pada malam itu, aku mencoba untuk menyetir hingga GOR Gelarsena, Terminal Jonggrangan, dan hingga ke Pasar Plumbon. Alhamdulillah, lancar.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan paginya, setelah salat Subuh, aku jajal bersama adikku hingga tengah kota, ke Stasiun Klaten. Kecepatan hingga 60 km per jam dengan gigi persneling 4 di Jalan Raya Klaten-Solo. Lagi-lagi alhamdulillah, semakin halus.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum aku kembali ke Yogyakarta untuk kuliah, aku ditanya oleh orang tua, &#8220;Berani tidak besok Sabtu-Minggu ke Salatiga dan Solo?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Siap.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dan tibalah hari Kamis, aku berkeliling hingga Trucuk untuk ziarah makam eyangku. Sabtu siang, aku beranikan diri untuk menyetir tanpa SIM A dan STNK masih belum jadi, karena masih proses pemindahbukuan dari pelat H 7705 LG ke pelat Klaten. Pukul 13.00 aku berangkat. Sampai di daerah Delanggu, aku tancap kecepatan hingga 80 km per jam, gigi persneling 4. Saat sampai di Jalan Raya Solo-Salatiga tepatnya di Kartasura arah Boyolali, aku berani tancap gas hingga kecepatan 100 km per jam dengan gigi 5. Subhanallah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampailah di rumah eyangku di Salatiga sekitar waktu Asar. Paginya, aku dan keluargaku keliling kota Salatiga. Dan pada pukul 09.30 kami berangkat menuju Solo untuk acara arisan keluarga. Sampai di Solo pukul 11.00. Kecepatan rata-rata selama perjalanan itu sekitar 80 km per jam.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk lebih mengasah kemampuan menyetir, dan keinginan pribadi ingin ke Solo Paragon, bapakku menyetujui untuk ke sana. Pukul 13.30 kami berangkat dari Makamhaji ke Kota Barat. Belokan sempit dan menanjak serta harus mengantre, itulah yang aku rasakan ketika masuk ke tempat parkir mobil Solo Paragon. Alhamdulillahnya lancar lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan akhirnya sampai rumah di Klaten lagi sekitar pukul 16.00. Aku bersyukur, baru beberapa hari pegang mobil (baca: menyetir), tapi sudah bisa ke luar kota, dan bersaing kecepatan dengan mobil yang lain dengan pengemudi yang sudah <em>expert</em>, sehingga tidak kaku dan tidak melulu diklakson. Aku bersyukur untuk yang kedua kalinya karena aku masih belum punya SIM A, tapi bisa tembus Klaten-Salatiga-Solo.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sentuhan keberanian dan ingin tahu &amp; ingin bisa yang luar biasa, akhirnya bisa. Itulah perjalanan awalku bisa menyetir. Kamu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.omriz.com/nyetir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Situs Web TVB Semarang Dibajak</title>
		<link>http://www.omriz.com/situs-web-tvb-semarang-dibajak/</link>
		<comments>http://www.omriz.com/situs-web-tvb-semarang-dibajak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jan 2012 07:39:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Komputer]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[TV Borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[TVB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.omriz.com/blog/?p=633</guid>
		<description><![CDATA[Beruntunglah saudara-saudara aku menemukan ini, hahaha. Tidak sengaja aku hari ini menjelajah internet hingga ke mana-mana. Maklum, keisenganku terhadap dunia jurnalistik dan pertelevisian tidak dapat dibendung lagi &#8211; walaupun tidak mendalami ilmunya di perkuliahan, tapi secara autodidak. Sedang asyik-asyiknya cari-cari informasi baru seputar pertelevisian, aku buka deh situs web TV Borobudur (TVB). Tahu, gak? TV Borobudur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="border-style: initial; border-color: initial;" title="TVB" src="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/211176_200948723259471_6789823_n.jpg" alt="" width="162" height="190" /></p>
<p style="text-align: justify;">Beruntunglah saudara-saudara aku menemukan ini, <del>hahaha</del>. Tidak sengaja aku hari ini menjelajah internet hingga ke mana-mana. Maklum, keisenganku terhadap dunia jurnalistik dan pertelevisian tidak dapat dibendung lagi &#8211; <del>walaupun tidak mendalami ilmunya di perkuliahan, tapi secara autodidak</del>. Sedang asyik-asyiknya cari-cari informasi baru seputar pertelevisian, aku buka <em>deh</em> situs web TV Borobudur (TVB). Tahu, <em>gak</em>?<span id="more-633"></span></p>
<p style="text-align: justify;">TV Borobudur (TVB) &#8211; yang sekarang telah berjaringan, alias dibeli, dengan Kompas TV &#8211; adalah salah satu stasiun televisi lokal yang ada di Kota Semarang. Saluran stasiun televisi ini ada di kanal 47 UHF, yang jangkauan terjauhnya mencapai Pemalang, Pati, Madiun, Magelang, bahkan Klaten pun bisa menangkap jika antena dengan <em>booster</em> berketinggian tiang antena lebih dari 50 meter dan diarahkan ke utara (arah Kota Semarang dari Kota Klaten) &#8211; <del>soalnya temanku di Semangkak, Klaten Tengah, bisa menerima siarannya</del>.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, sewaktu membuka alamat <a href="http://www.tvborobudur.com" target="_blank">www.tvborobudur.com</a>, kok yang keluar malah tulisan &#8220;Hi <img src='http://www.omriz.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> &#8221;? Biasanya jika ada perbaikan pun pasti ada pemberitahuan kalau sedang diperbaiki. Untuk memastikannya, aku <em>search</em> di <em>google</em> untuk mendapati subhalaman ataupun <em>inner link</em>-nya. Setelah muncul, terlihat bahwa situs tersebut masih aktif dan baru saja di-<em>update</em> 2 hari yang lalu dalam konten berita. Ini menunjukkan bahwa situs web itu masih digarap, alias diurusi, mengingat mungkin saja setelah &#8220;dibeli&#8221; Kompas TV akan ada perubahan situs web milik TVB itu.</p>
<p><a href="http://s921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/?action=view&amp;current=Untitled.png" target="_blank"><img src="http://i921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/Untitled.png" alt="Photobucket" border="0" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Gambar halaman utama situs web TVB yang dibajak, 15 Januari 2012, sekira pukul 14.00 WIB.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimanapun juga, menurut aku, itu dapat dipastikan kalau situs web tersebut di-<em>hack</em> oleh orang tak dikenal. Bagaimana mungkin kalau situs web mau diganti, kok isinya masih ditambah dan diperbarui? Buat apa? Lagipula, jadwal acaranya pun juga sudah diisi dengan acara milik Kompas TV. Jadi, pastilah situs web TV Borobudur kena <em>hack</em>!</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk TVB, selamat ya! Ternyata salah satu situs populer incaran para <em>hacker</em> adalah situs Anda. Beruntunglah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.omriz.com/situs-web-tvb-semarang-dibajak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Idul Adha di Griya Prima</title>
		<link>http://www.omriz.com/idul-adha-di-griya-prima/</link>
		<comments>http://www.omriz.com/idul-adha-di-griya-prima/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 06:50:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[griya prima]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha]]></category>
		<category><![CDATA[klaten]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.omriz.com/blog/?p=601</guid>
		<description><![CDATA[Tentu saja momen Idul Adha 1432 kemarin bisa dikatakan sama dengan momen lebaran haji sebelum-sebelumnya. Cuma yang berbeda adalah aku sedang dalam masa Ujian Tengah Semester (UTS), jadi aku tidak keliling kampung untuk melihat euforia Idul Qurban. Aku cukup berteduh di bawah atap rumah, sesekali membaca buku buat belajar, dan juga sedikit lebih banyak menonton televisi. Selain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tentu saja momen Idul Adha 1432 kemarin bisa dikatakan sama dengan momen lebaran haji sebelum-sebelumnya. Cuma yang berbeda adalah aku sedang dalam masa Ujian Tengah Semester (UTS), jadi aku tidak keliling kampung untuk melihat euforia Idul Qurban. Aku cukup berteduh di bawah atap rumah, <del>sesekali</del> membaca buku buat belajar, dan juga sedikit <del>lebih banyak</del> menonton televisi. Selain itu memang sudah memasuki musim hujan, bung. Gerimis sepoi-sepoi, angin rintik-rintik, <del>loh?</del></p>
<p style="text-align: justify;">Sebelumnya, aku mau kasih tahu bahwa tempat tinggalku adalah di suatu perumahan kelas menengah, perumahan terbesar di kotaku dengan fasilitas dan lingkungan yang cukup baik dan mendukung. Maklum, <span id="more-601"></span>perumahanku saja dibagi jadi 3 bagian: Griya Prima Timur (GPT), Griya Prima Barat (GPB), dan Griya Prima Utara (GPU), yang masing-masing punya RW sendiri-sendiri, dan masih ada &#8220;perumahan satelit&#8221; yakni Griya Prima Selatan. Di situ terdapat beberapa lapangan olah raga yang cukup luas. Nah, sebab itulah aku melaksanakan salat Id di salah satu lapangan yang cukup luas, letaknya di tengah-tengah perumahan, yakni di Lapangan Tenis Griya Prima Timur, Jl. Raya Griya Prima, Klaten Utara. Sedangkan rumahku sendiri di Griya Prima Barat, <del>siapa yang tanya?</del></p>
<p style="text-align: justify;">Salat Idul Adha dimulai sekitar pukul 06.15 WIB dengan imam Pak Muslim dari Griya Prima Timur. Setelah salat Id selesai, diteruskan dengan khotbah. Dalam khotbah itu aku <del>tumben</del> mendengarkan dengan seksama. Apa yang disabdakan khotib tersebut aku telan matang-matang, karena bagiku khotbah yang satu ini cukup berkesan dan membakar gelora kenasionalan.</p>
<blockquote><p>Islam kita majoritas jumlahnya banyak, tapi kenapa keberadaannya itu tidak tampak di masyarakat?</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Nah, itulah yang bikin bulu-bulu tangan dan kaki bergetar, merinding,<em> <del>lebay</del></em>. Memang benar, muslim dan muslimat di Indonesia merupakan majoritas, mungkin 90 persennya penduduk Nusantara adalam kaum Islam. Tetapi masih saja Indonesia tercinta ini kalah dengan negara barat. Padahal nilai-nilai syariah Islam sebenarnya sangat baik untuk diterapkan baik dalam kehidupan sosial maupun kenegaraan. Banyak pejabat yang sudah bergelar haji dan hajah, tapi masih ada di antara mereka yang juga melakukan korupsi atas kesadaran penuh, melepas tanggung jawabnya sebagai seorang Islam dan bergelar haji/hajah. Sungguh ironis memang, ketika peribadatan seorang insan mulus layaknya alim ulama, namun kemunkaran juga tetap jalan. Huh!</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://s921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/?action=view&amp;current=Photo0045.jpg" target="_blank"><img src="http://i921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/Photo0045.jpg" alt="Photobucket" border="0" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Saat-saat untuk beristirahat.</p>
<p><a href="http://s921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/?action=view&amp;current=Photo0046.jpg" target="_blank"><img src="http://i921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/Photo0046.jpg" alt="Photobucket" border="0" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Sapi yang malu-malu kucing. Sapi kok malunya kucing?</p>
<p><a href="http://s921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/?action=view&amp;current=Photo0044.jpg" target="_blank"><img src="http://i921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/Photo0044.jpg" alt="Photobucket" border="0" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Ini yang namanya pendekatan. Yang didekati tampangnya seram.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://s921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/?action=view&amp;current=Photo0043.jpg" target="_blank"><img src="http://i921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/Photo0043.jpg" alt="Photobucket" border="0" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Akhirnya disembelih juga.</p>
<p><a href="http://s921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/?action=view&amp;current=Photo0042.jpg" target="_blank"><img src="http://i921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/Photo0042.jpg" alt="Photobucket" border="0" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Aduh, porno. Foto telanjang. <img src='http://www.omriz.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Selepas salat Id, aku bersalam-salaman dengan warga sekitar. Lalu ada jadwal penyembelihan hewan korban di masing-masing masjid GPT, GPB, dan GPU, karena masing-masing memiliki jamaah yang banyak. Dalam satu kompleks Perumahan Griya Prima, totalnya adalah 18 sapi dan 3 kambing, dengan persebaran 8 sapi 2 kambing di GPT, 7 sapi 1 kambing di GPB, dan 3 sapi di GPU. Penyembelihan dilakukan mulai pukul 09.00 WIB hingga sekitar bakda zuhur. Kelihatan bapak-bapak dan para remaja yang membantu proses penyembelihan, ibu-ibu yang memotong-motong daging dan mempersiapkan untuk pesta korban, dan anak-anak juga memeriahkan acara penyembelihan yang sedikit-banyak membantu pula. Kesadaran terhadap sosial di perumahan ini memang cukup baik, berbeda dengan perumahan-perumahan pada umumnya yang mengutamakan individualitas. Terbukti dengan kesadaran menyisihkan sebagian harta untuk berkorban.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam momen itu, aku teringat pesan poin ke-2 yang disampaikan khotib saat sehabis salat Id.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Marilah kita luruskan niat kita, apakah korban itu dipersembahkan hanya untuk manusia, ataukah semata-mata karena Allah swt.?</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Tidak dapat dipungkiri, beberapa yang berkorban pasti pernah terbesit pikiran: berkorban untuk menampakkan bahwa si pengorban itu dipandang sebagai orang yang mampu. Pun juga kadang dijadikan ajang untuk bersaing dalam hal kekayaan. Tapi masih ada juga yang memang benar-benar tulus berderma demi kekenyangan perut bersama, <del>hehehe</del>. Coba kita introspeksi diri kita masing-masing, bukan dalam hal berkorban saja, tapi secara umum. Lagi-lagi setan laknat yang dikambinghitamkan, padahal bisa saja rasa ingin dipandang itu muncul dari nafsu masing-masing insan.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu lagi pesan khotib yang terakhir, poin ketiga yang baru saja aku ingat <del>waktu menulis pos ini</del>.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Orang yang perlu dikasihani itu ada 3.</p>
<p>1. Orang mulia yang teraniaya.<br />
2. Orang kaya yang jatuh bangkrut.<br />
3. Orang pintar di tengah-tengah orang bodoh karena apatis.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ingat, masak dulu ketiga-tiga poin itu, bukan cuma 3 poin dalam pesan ketiga, <em>lho.</em> Telan matang-matang, lalu perhatikan apa yang terjadi. Super! <img src='http://www.omriz.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.omriz.com/idul-adha-di-griya-prima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanpamu</title>
		<link>http://www.omriz.com/tanpamu/</link>
		<comments>http://www.omriz.com/tanpamu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 17:06:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.omriz.com/?p=579</guid>
		<description><![CDATA[Cukup terang lampu yang menyinari ruangku. Pukul 22.47 aku berbaring di atas kasur busa. Di sampingku ada temanku yang juga sedang memegang laptop, menjelajah internet dengan koneksi hotspot seadanya. Aku sembari memakai headphone mendengarkan beberapa lagu. Satu lagu yang cukup searus dengan aliran perasaanku. kalau seperti ini aku harus bagaimana tak mengerti, tak punya cara untuk menghadapinya belum siap ku menerima semua yang terjadi tiba-tiba saja kamu pergi, tak bersamaku lagi Sepotong lirik lagu yang dinyanyikan Ipang dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Cukup terang lampu yang menyinari ruangku. Pukul 22.47 aku berbaring di atas kasur busa. Di sampingku ada temanku yang juga sedang memegang<em> laptop</em>, menjelajah internet dengan koneksi <em>hotspot</em> seadanya. Aku sembari memakai <em>headphone</em> mendengarkan beberapa lagu. Satu lagu yang cukup searus dengan aliran perasaanku.</p>
<blockquote><p>kalau seperti ini aku harus bagaimana<br />
tak mengerti, tak punya cara untuk menghadapinya<br />
belum siap ku menerima semua yang terjadi<br />
tiba-tiba saja kamu pergi, tak bersamaku lagi</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Sepotong lirik lagu yang dinyanyikan Ipang dengan titel <em>Tanpamu</em>, membuatku dibawanya seolah kembali ke memori masa lampau yang masih aku coba untuk memendamnya sedalam mungkin. Teringat sesuatu yang <em>seronok</em>, namun cukup pedih.<span id="more-579"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Masih kuingat kisah cinta pertamaku &#8211; walau bukan taksiran yang pertama &#8211; dengannya. Hatiku dibuatnya deg-degan lebih dari seminggu, tiap hari, hingga aku khawatir dengan jantungku yang berdegup begitu kencang, hari-hari sebelum aku berani &#8211; untuk pertama kalinya &#8211; mengungkapkan perasaan pada lawan jenis. Manis, itu yang terlihat di mataku. Cerdas, itu yang terpikir di otakku. Merdu, itu yang terdengar di telingaku. Aku menganggap ialah yang sempurna, dengan segala keberhasilannya.</p>
<p>&#8220;lo bgtu jwb na  bkn iya. tp&#8230;. njeh :$&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tergerak untuk kembali membuka memori masa lampau, ketika dia menerima pernyataan cintaku, pertama kalinya. Aku tak menyangka aku bisa dengannya. Kata-kata waktu itu masih sama persis aku simpan &#8211; sengaja &#8211; di dalam dua memori: memori maya entah di mana ia berada dan memori suatu benda padat berbentuk balok dengan piringan di dalamnya. Entah mengapa belum &#8211; tidak &#8211; aku buang jauh-jauh hari. Dan satu lagi memori dari pemberian Yang Mahakuasa yang hanya bisa terhapus oleh kikisan waktu dan peristiwa.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu pun berjalan. Aku dan dia layaknya sepasang kekasih baru yang <em>ngedate</em> ke tempat-tempat di mana banyak pasangan yang juga mengunjunginya, senang diliputi malu. Tapi itu berkelanjutan, tak ada keberanian. Kadang, sekarang pun aku masih kecewa mengapa aku seperti bungkam di hadapannya. Padahal, aku hanya berperasaan malu yang luar biasa. Aku benar-benar menganggapnya seperti dewi atau malaikat yang turun dari langit, suci bersih tiada noda dan takut untuk menodai. Sempat bertahan, namun kandas di tengah jalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesalku tidak menunjukkan keberanianku sekadar dalam hal mulut belaka. Kebosanan muncul dalam benaknya, seperti halnya nada yang tidak berirama, monoton. Perkembangan pembicaraan berjalan di tempat. Tak ada komando maju jalan dari dalam lubuk hati pribadi. Dikalahkan dengan sangkaan tinggi akannya dewi sempurna. Padahal dia coba untuk mengimbangi ketimpangan itu.</p>
<p>&#8220;Belum dewasa,&#8221; pikirku sekarang menanggapi hal itu semua. Dia pun tak kuasa, pergi.</p>
<blockquote><p>kenyataan belum tentu sama dengan harapan<br />
tak sedikit cinta yang berubah menjadi sangat menyakitkan<br />
ketika kau pergi tinggalkan aku<br />
tak lagi peduli sanggupkah aku tanpamu, tanpamu<br />
kau pikir aku sanggup sendiri dan bisa menerima<br />
semuanya yang telah terjadi bisa membuat aku gila</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Sekarang pun aku masih merasa dia yang terhebat. Aku memandang, keberhasilan di tangannya kelak. Lain sisi, mungkin aku tidak pernah dipikirkannya kembali. Hapusan memorinya telah melampaui jauh ke hadapan hal-hal yang tidak berguna baginya. Menyakitkan. Aku &#8211; bisa &#8211; gila.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, semuanya hanyalah bualan waktu saja. Merugi dalam hal yang sebenar-benarnya menarik ingatan terpendam dalam untuk kembali ke permukaan, membuang energi. Paling tidak, aku bisa bernostalgia saat memori itu kembali. Atau aku bisa memandang ke depan lebih baik dengan mempertimbangkan hal yang terjadi dalam memori itu. Yang jelas, aku bangga pernah bersamamu. Aku bangga sebenar-benar bangga padamu. Andai waktu kembali, akan kuubah semua tingkah burukku. Tetapi waktu selalu berjalan maju. Andai ada kesempatan kedua, akan kuusahakan sekuat jiwa-raga. Tapi kesempatan tidak datang dua kali. Dialah Yang Maha Mengetahui.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu sudah pukul 00.14, saatnya untuk beristirahat. Semoga kenangan ini menjadi kenangan yang manis untuk masa depan yang cerah.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Tanpamu, aku bisa gila. Tanpamu, aku bisa bahagia. <img src='http://www.omriz.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.omriz.com/tanpamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hijrah Domain</title>
		<link>http://www.omriz.com/hijrah-domain/</link>
		<comments>http://www.omriz.com/hijrah-domain/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 11:01:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[domain .com]]></category>
		<category><![CDATA[omriz.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.omriz.com/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Setelah google memutakhirkan PR-nya pada Juni kemarin, ternyata google juga mendeindeks semua website dan blog dengan domain co.cc. Entah atas alasan apa saya juga tidak tahu. Kemungkinan masalah banyaknya situs co.cc yang berbau pornografi dan spam. Untuk itulah blog yang saya kelola ini pindah domain dari www.omriz.co.cc menjadi www.omriz.com. Itu juga sebagai langkah awal, cambuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah google memutakhirkan PR-nya pada Juni kemarin, ternyata google juga mendeindeks semua website dan blog dengan domain co.cc. Entah atas alasan apa saya juga tidak tahu. Kemungkinan masalah banyaknya situs co.cc yang berbau pornografi dan spam.</p>
<p>Untuk itulah blog yang saya kelola ini pindah domain dari www.omriz.co.cc menjadi www.omriz.com. Itu juga sebagai langkah awal, cambuk bagi saya untuk mengelola weblog secara lebih profesional dan me-<em>make over</em> weblog dengan desain sesimpel dan sebagus mungkin.</p>
<p>Coba kunjungi <a href="http://www.omriz.com">www.omriz.com</a>, laman utama weblog saya. <em>Enjoy it</em>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.omriz.com/hijrah-domain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Google PR Update 27 Juni 2011</title>
		<link>http://www.omriz.com/google-pr-update-27-juni-2011/</link>
		<comments>http://www.omriz.com/google-pr-update-27-juni-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 16:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[google update]]></category>
		<category><![CDATA[june 2011]]></category>
		<category><![CDATA[pagerank]]></category>
		<category><![CDATA[pr]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.omriz.co.cc/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[Bagi sebagian besar pengembang setia blog maupun web, pasti sudah menanti-nanti kapan google meng-update suatu hal yang mereka tunggu-tunggi itu. Ialah page rank (PR), yakni penilaian google dari suatu web/blog berdasarkan kualitas web/blog itu sendiri. Rentang nilainya antara 0 &#8211; 10, dengan ketentuan yang terbaik adalah 10. Ada pula suatu blog/web memiliki PR n/a atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bagi sebagian besar pengembang setia blog maupun web, pasti sudah menanti-nanti kapan google meng-<em>update</em> suatu hal yang mereka tunggu-tunggi itu. Ialah <em>page rank</em> (PR), yakni penilaian google dari suatu web/blog berdasarkan kualitas web/blog itu sendiri. Rentang nilainya antara 0 &#8211; 10, dengan ketentuan yang terbaik adalah 10. Ada pula suatu blog/web memiliki PR n/a atau yang dinamakan <em>not available</em> yang berarti PR blog/web tersebut masih belum terindeks oleh google atau belum memenuhi kriteria yang disyaratkan google agar dapat masuk ke dalam 10 besar nilai yang dilakukan google. Cukup sulit untuk mendapatkan ranking dari google, ada yang bertahun-tahun baru mendapatkan &#8216;kenaikan pangkat&#8217; dari google. Ada pula yang baru beberapa bulan saja sudah bisa menikmati manfaat dari &#8216;kenaikan&#8217; pangkat tersebut. Itu semua (katanya) tergantung dari <em>backlink</em> atau <em>blogroll</em> maupun konten dan trafiknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa itu cukup penting? <span id="more-263"></span>Bagi yang senang mengembangkan blog/web, terlebih yang berbisnis online seperti ini &#8211; yang memanfaatkan kualitas blog/web baik dari PR maupun trafiknya &#8211; PR dapat digunakan untuk menghasilkan dolar-dolar dari internet karena dari PR itulah suatu blog/web dapat dijual atau disewakan.</p>
<p><img class="aligncenter" title="update" src="http://i921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/update.png" alt="" width="549" height="161" /></p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari Kamis, 27 Juni 2011 sekitar sore hari WIB, google melakukan <em>update</em> mayor untuk yang kedua kalinya di tahun 2011 ini, setelah yang pertama tanggal 19 Januari 2011 kemarin. Saya tunggu-tunggu selama 1,5 tahun, dan baru kali ini blog saya naik peringkat, walaupun hanya satu saja.</p>
<p><img class="aligncenter" title="pr" src="http://i921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/pr.png" alt="" width="300" height="209" /></p>
<p>Blog ini sekarang jadi <del>PR1</del>. Alhamdulillah. <img src='http://www.omriz.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8212;&#8212;-</p>
<p><em>Update: </em>Blog ini sudah pindah ke <a href="http://www.omriz.com">www.omriz.com</a>.<em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.omriz.com/google-pr-update-27-juni-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My Kite Flies Away</title>
		<link>http://www.omriz.com/my-kite-flies-away/</link>
		<comments>http://www.omriz.com/my-kite-flies-away/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jun 2011 09:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[layangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.omriz.co.cc/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[I would like to be a kite on a string and soar up over the trees. I would like to try to reach the sky With butterflies and bees. I&#8217;d love to fly past billowy clouds, With my tail of red and white, And climb so high the things below would disappear from sight. If [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>I would like to be a kite on a string<br />
and soar up over the trees.<br />
I would like to try to reach the sky<br />
With butterflies and bees.<br />
I&#8217;d love to fly past billowy clouds,<br />
With my tail of red and white,<br />
And climb so high the things below<br />
would disappear from sight.<br />
If I could fly above the clouds<br />
would I ever, ever return?<br />
And think,<strong></strong> <strong></strong>if I could fly so high,<br />
Just how much I would learn.</p>
<p>&#8220;To Be A Kite&#8221; by Londis C<strong></strong>arpenter<strong><br />
</strong></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">A short story about <strong></strong>a child who flew up his kite, one day. Hanafi Subiyakto Putro, 10 years old, lives beside my house (my neighbor). He was <span id="more-262"></span>flying his kite on second floor of my house before his kite flew away.</p>
<p style="text-align: center;"><strong></strong><img title="layangan1" src="http://i921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/layangan1.jpg" alt="" width="400" height="532" /></p>
<p style="text-align: center;"><img title="layangan2" src="http://i921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/layangan2.jpg" alt="" width="400" height="532" /></p>
<p style="text-align: center;"><img title="layangan3" src="http://i921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/layangan3.jpg" alt="" width="400" height="534" /></p>
<p style="text-align: center;"><img title="layangan4" src="http://i921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/layangan4.jpg" alt="" width="400" height="533" /></p>
<p style="text-align: center;"><img title="Layangan6" src="http://i921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/layangan6.jpg" alt="" width="400" height="532" /></p>
<p style="text-align: center;"><img title="layangan5" src="http://i921.photobucket.com/albums/ad54/rzqempire/layangan5.jpg" alt="" width="400" height="533" /></p>
<p style="text-align: justify;">Taken with 2 MP camera on my Sony Ericsson S312. I edit tho<!--more--><!--more--><!--more-->se photos with Adobe Photoshop CS5.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.omriz.com/my-kite-flies-away/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lulus, Lolos!</title>
		<link>http://www.omriz.com/lulus-lolos/</link>
		<comments>http://www.omriz.com/lulus-lolos/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jun 2011 14:21:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[lolos]]></category>
		<category><![CDATA[sma 1 klaten]]></category>
		<category><![CDATA[snmptn undangan]]></category>
		<category><![CDATA[teknik sipil]]></category>
		<category><![CDATA[ugm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.omriz.co.cc/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Entah mengapa kelulusan SMA ini bagiku tidak terlalu merupakan sesuatu yang &#8216;wah&#8217; (bukannya sombong). Aku sangat yakin 100% bahwa aku akan lulus SMA, karena aku yakin SMA favorit ini selalu meluluskan 100% para muridnya sejak zaman baholak (baca: dahulu). Dan nyatanya, itu terulang kembali tahun ini. Seratus persen muridnya dinyatakan lulus dari R-SMA-BI Negeri 1 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Entah mengapa kelulusan SMA ini bagiku tidak terlalu merupakan sesuatu yang &#8216;wah&#8217; (bukannya sombong). Aku sangat yakin 100% bahwa aku akan lulus SMA, karena aku yakin SMA favorit ini selalu meluluskan 100% para muridnya sejak zaman <em>baholak</em> (baca: dahulu). Dan nyatanya, itu terulang kembali tahun ini. Seratus persen muridnya dinyatakan lulus dari R-SMA-BI Negeri 1 Klaten (baca: SMAN 1 Klaten alias Smansa Klaten). Tidak tanggung-tanggung pula, rata-rata nilai ijazah para muridnya tembus angka 9 (sembilan), (hampir) perfek!</p>
<p style="text-align: justify;">SMA-ku tahun ini se-Provinsi Jawa Tengah meraih peringkat ke-2 (kedua) untuk jurusan IPA dan ke-9 (kesembilan) untuk jurusan IPS (namanya juga sekolah unggulan). Sayangnya,<span id="more-193"></span> nilai Ujian Nasional (UN)-ku sendiri tidak ada yang mendapat 10 bulat, padahal teman-teman banyak yang mendapatkannya. Bahasa Inggris, miris dan hampir menyentuh angka 10, cukup di angka 9,8 (salah satu).</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/248338_1712277578942_1598224122_31355504_2554989_n.jpg" alt="" width="600" height="161" /></p>
<p style="text-align: justify;">Ya, rata-rata nilai UN-ku sendiri mencapai 9,12 (jumlah 54,7 dibagi 6 mapel). Walaupun begitu, setelah dihitung dengan nilai rapor dan Ujian Sekolah, maka hasilnya agak lebih rendah. Tapi lumayanlah, hampir 9 (alias 8,95).</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang benar-benar bikin deg-degan adalah hari berikutnya. Pengumuman Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Jalur Undangan yang rencananya baru diumumkan hari Rabu pukul 00.00, ternyata dimajukan menjadi hari Selasa pukul 19.00. Aku berdoa, memohon ampun dan memuji keagungan-Nya, memohon agar doaku dikabulkan. Aku bernazar dan sehabis magrib, aku membaca Alquran (mengaji) kira-kira 1 juz. Setelah itu, temanku yang bernama Earlan dan Yoga mengirim pesan singkat (SMS) ke nomorku, memberitahukan bahwa mereka ingin membuka dan melihat pengumuman bersama-sama di kamarku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 19.05, bukannya aku yang ingin bersegera membuka pengumuman di laman SNMPTN, tapi justru adikku yang bernama Fadli. Dia malah kesal gara-gara aku tidak segera memberi tahu nomor peserta SNMPTN Undanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>Endi</em>, mas? <em>Gek cepet ilho</em>! Ah, <em>kesuwen</em>!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>Kosik ta</em>, dik. <em>Sing</em> daftar <em>ki sapa</em>? Hahaha.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ah, <em>gek cepet ta</em>, mas!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku berikan nomor pendaftaranku: 4110051157. Dengan mengucap &#8216;bismillahirrahmanirrahim&#8217;, hasilnya:</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/255139_1712815712395_1598224122_31356044_1056903_n.jpg" alt="" width="610" height="344" /></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hore&#8230;, alhamdulillah!&#8221; langsung kuucap lalu memeluk kedua orang tuaku dan sujud syukur.</p>
<p style="text-align: justify;">Selang beberapa waktu kemudian, Yoga dan Earlan membuka masing-masing pengumuman bersama-sama (bertiga). Ternyata mereka juga diterima! Kami bersorak bahagia seketika di kamarku (sampai-sampai tetangga bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi). Tiba-tiba saja teman-temanku yang bukan sekelas masuk begitu saja ke kamarku (terkaget), padahal sebelumnya tidak ada janji (SMS) mau ke rumahku. Tapi tak apalah. Dari 4 orang yang masuk, 2 orang diterima. Alhamdulillah.</p>
<p style="text-align: justify;">Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam! Tak kusangka, aku diterima di perguruan tinggi favorit yang aku cita-citakan sejak kecil <strong>tanpa tes</strong> (terharu bahagia). Kuncinya, banyak berdoa dan perbanyak memohon doa restu pada orang-orang sekitar, niscaya Allah mendengarkan doa-doa para hamba-Nya. Percaya atau tidak, harus percaya!</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Civil and Environmental Engineering Undergraduate Program at <strong>Gadjah Mada University</strong></em>,<strong><em> I&#8217;m coming</em></strong>! <img src='http://www.omriz.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.omriz.com/lulus-lolos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

